Example floating
Bangka BaratBeritaInternasional

Zizi Alqoorni: Mengubah Keterbatasan Menjadi Kekuatan Berkat Doa Ibu

34
×

Zizi Alqoorni: Mengubah Keterbatasan Menjadi Kekuatan Berkat Doa Ibu

Sebarkan artikel ini

YOGYAKARTA.BABEL.SKT.CO.ID — Ketika langit masih menggantungkan gelapnya dan jalanan belum sepenuhnya diisi suara kendaraan, ia sudah berdiri di depan rak sayur. Tangannya bekerja seperti mesin yang terlatih oleh waktu. Matanya membaca pesanan yang masuk dengan ketepatan yang tidak lagi membutuhkan jeda berpikir. Sosok itu Zizi Alqoorni dimedan tempur ruang di mana hidup diuji kembali, setiap hari, tanpa jeda.

“Dulu saya cuma punya satu pikiran. Bagaimana usaha ini bisa jalan bukan untuk saya, tapi supaya saya bisa membahagiakan ibu.” katanya, suaranya tenang namun berat oleh perjalanan panjang.

Zizi lahir di Desa Kundi, Bangka Belitung. Sebuah tempat yang, dalam banyak narasi pembangunan, jarang disebut. Ia bukan pusat ekonomi. Ia bukan pusat pendidikan. Ia adalah pinggiran dalam ruang yang sering kali hanya menjadi catatan kaki.

Di tempat seperti itu, mimpi tidak tumbuh bebas. Ia harus bernegosiasi dengan realitas bahwa keterbatasan akses, keterbatasan informasi, keterbatasan pilihan.

Namun Zizi tidak menunggu keadaan berubah tahun 2019, ia merantau ke Yogyakarta di bangku kuliah S1 Ekonomi Islam, ia menjalani hidup yang jauh dari kata mudah. Ia bukan mahasiswa yang hanya belajar di kelas. Ia belajar dari hidup itu sendiri tentang bertahan, tentang mengelola keterbatasan, tentang menahan keinginan.

Hingga akhirnya, pada 2023, ia lulus dengan predikat cumlaude sebuah pencapaian yang bagi banyak orang adalah garis akhir. Tapi bagi Zizi, itu hanyalah garis start.

“Waktu itu saya pikir sudah selesai. Ternyata hidup baru mulai.” katanya.

Oktober 2023 yang ada hanya Rp 2 juta di tangan hasil dari lomba penelitian. Satu keputusan besar untuk memulai usaha.

Ia membuka warung sayur memulai dari nol. Secara harfiah. Dari kayu sederhana, ia bangun rak bekerja tanpa sistem, karena ia sendiri adalah sistem itu.

“Semua saya lakukan sendiri. Dari chat supplier, nyusun barang, jaga toko, sampai delivery 24 jam.” katanya.

Waktu tidak lagi menjadi ukuran. Siang dan malam melebur menjadi satu, Fase ini tidak terlihat. Tidak ada yang mengabadikan. Tidak ada yang memuji tapi justru di situlah karakter dibentuk.

“Kadang saya tidur cuma dua jam. Kadang nggak tidur sama sekali.” tambahnya.

Ketika usaha mulai bergerak, Zizi mencoba mempercepat pertumbuhan mendirikan PT. bisa meluncurkan aplikasi dan membuka cabang.

Dalam waktu singkat, ia mencoba melompat lebih jauh daa terjatuh.

“Jujur, itu titik paling berat. Saya pikir saya sudah benar. Ternyata belum.” katanya.

Kegagalan datang bukan hanya sebagai angka kerugian. Ia datang sebagai rasa sebagai beban mental yang tidak mudah diukur.

Namun, di tengah semua itu, ada satu hal yang tidak berubah yaitu tujuan.

“Saya ingat ibu saya. Saya belum bikin beliau bahagia.” katanya.

Ia pergi ke Magelang. Ke Garut. Ke desa-desa pertanian di situlah ia menemukan sesuatu yang penting bahwa bisnis bukan hanya soal menjual, tetapi soal memahami sistem.

Restoran, hotel, catering semua mulai datang dari yang dulu nunggu pembeli. Sekarang kami yang kewalahan menjadi omset menembus angka tiga digit per bulan.

Mobil operasional tanpa utang tagihan dan umroh dan haji untuk orang tua nya namun puncak itu datang dalam bentuk yang sangat sederhana.

Keberhasilan Berkat Doa Ibu

Agustus 2025, ia menunaikan haji besar semua ini karena doa ibu “Saya cuma jalan yang bukakan jalan itu Allah”. ucapnya lirih.

Pada 5 April 2026, perjalanan itu mencapai fase baru menikahi perempuan yang selama ini menemaninya.

“Mahar saya sederhana. Seperangkat alat sholat, emas 50 gram dan 1000 riyal dari hasil jualan sayur.” katanya.

Di balik kesederhanaan itu, ada makna yang tidak bisa dibeli bahwa setiap nilai yang ia berikan adalah hasil dari perjuangan.

Hari ini, Zizi memimpin tim. Melanjutkan S2. Mengembangkan usahanya. Nmun lebih dari itu, ia telah menjadi simbol.

Bahwa di antara rak sayur, di antara malam tanpa tidur, di antara doa yang tidak terdengar ada seseorang yang sedang menulis ulang takdirnya dan kini Zizi Alqoorni tidak lagi sekadar bertahan hidup.(Belva)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *