Example floating
Bangka IndukBeritaInternasional

Tempat Kerjanya Diframing Negatif Oknum Media, Eno: Bos Akbar Pegang Kok Bukti Transfer Media

3
×

Tempat Kerjanya Diframing Negatif Oknum Media, Eno: Bos Akbar Pegang Kok Bukti Transfer Media

Sebarkan artikel ini

BABEL,BANGKA INDUK,SKT.CO.ID – Sudah berulangkali artikel dalam situs berita membahas soal media framing, yakni sebuah pemahaman -menurut Robert N Entman- membingkai (framing) yang berarti menyeleksi bagian dari sebuah peristiwa dan membuatnya lebih menonjol dalam teks komunikasi. Proses ini bertujuan agar pembaca melihat dan memaknai isu sesuai dengan sudut pandang yang diinginkan oleh media, Senin (27/7/26)

Framing tidak berbohong, tapi ia mencoba membelokkan fakta dengan halus melalui penyeleksian informasi, penonjolan aspek tertentu, pemilihan kata, bunyi, atau gambar, hingga meniadakan informasi yang seharusnya disampaikan.

Dengan pemahaman seperti itu, maka sudah patut kiranya ketika -dewasa ini- ada beberapa media yang malah menjadikan seorang kolektor swasta secara periodik jadi bahan atau angle berita dengan pola repetition atau berulang-ulang soal sepak terjang kolektor timah tadi.

Gamblangnya adalah, berita berulang mengenai kolektor swasta bernama Akbar Kuday, dimana dalam pemahaman akal sehat sudah masuk kategori tidak sportif lagi untuk dikaitkan dengan beragam permasalahan yang terjadi di negeri Serumpun Sebalai. Mulai kelangkaan bbm, penggeledahan eks Jampidsus hingga penyelundupan setahun yang lalu.

“Ku terus terang bai bang, ku ne nyari makan disini (gudang kolektor di Kuday Sungailiat -red), ku gak urus bosku neg beri duit ke siapa. Tapi mun kutingok akhir-akhir ini berita terus menyudutkan tempat ku begawe, ku jadi heran apa media tu dag pernah dibantu sama bos? Setahuku nih bang yang kudengar banyak juga kawan media yang sudah dibantu sama bos tapi ku heran sudah dibantu malah tidak tahu diri, agik terus lah mencari salah bos,” ujar pekerja lepas Gudang Kuday Sungailiat, Eno pada media di Senin 27 Juli 2026 siang.

Eno bilang, dirinya malah pernah saksikan langsung betapa atasannya bekerja (diduga B) kelimpungan karena menerima telepon dari seorang oknum media yang -informasinya- sedang berada di luar Bangka dan meminta sejumlah uang untuk pembelian tiket pulang.

“Kalau mau fair, silahkan mereka oknum media yang terus-terusan mosting berita soal bisnis bos buka-bukaan. Karena menurutku, bos pasti punya bukti transfer uang ke mereka, apakah mereka sanggup main terbuka seperti itu? Sudah terima uang, tapi tidak tahu cara berkawan,” sungut Eno lagi.

Senada dengan Eno, salah satu pekerja lainnya Gudang Kuday, sebut saja ANDR kali ini bersuara lebih lantang dan lugas ketika dimintai komentarnya terkait masifnya framing media tertentu pada aktifitas bisnis CV TGV alias bisnis Bos Akbar.

“Siapa sih mereka itu bang? Apa cuma bos Akbar saja kolektor swasta yang ada di Bangka Belitung? Kalau mau tegak lurus sekalian aja tidak satupun kolektor boleh berusaha di bidang pertimahan, biar adil sekalian. Kok bos Akbar seperti jadi incaran mereka? Jangan sampai kami yang ada dibawah ini terganggu kencéng nasinya karena keserakahan mereka. Sudah dibantu tapi terus-menerus ngambur berita, apa biar diberi lebih?” ketusnya pada wartawan.

Ketika wawancara menyentuh permasalahan soal penegakan hukum yang diframing tidak berani menyentuh bos Akbar, keduanya serempak mengatakan bahwa secara rutin dua anggota Satlap Tricakti tiap sore hari datang berkunjung untuk memeriksa dan membuat laporan tertulis pada komandan mereka terkait kegiatan yang berada di dalam Gudang Kuday.

“Ini cara mikir bodoh aja bang, gak mungkin anggota Satlap Tricakti rutin datang tiap sore kesini tanpa tahu praktek ilegal bos Akbar. Itu juga kalo ada, kan mereka tiap sore hari tau darimana masuknya pasir timah, kemana keluarnya pasir timah yang sudah dilobi. Jadi, menurut pikiranku yang bodoh ini ya bos ini mainnya resmi kok pake CV mitra PT Timah,” ungkap ANDR lagi.

Diduga intervensi awak media sudah di bantu naik berita 

Sinyalemen selanjutnya yang mengatakan bahwa nama Akbar Kuday berada dalam pusaran kasus dugaan penyelundupan timah di bulan Februari 2025 yang lalu, serta merta dibantah keras oleh karyawan serta pekerja harian yang berada di Gudang milik Bos Akbar.

“Logikanya begini bang, kalau misalnya bos ‘bermain’ ilegal seperti menyelundup seperti yang oknum media tuduhkan, alangkah hebat bos kami ne bang. Coba aja liat mantan Jampidsus tuh, kan jago tuh bang sembunyikan -diduga harta haramnya- dalam brankas tersembunyi di cafe, tapi akhirnya karena memang bermain ilegal ditabrak juga tuh. Jangan sampai bos Akbar jadi seperti dihakimi dalam pemberitaan, padahal belum ada putusan pengadilan yang inkrah,” beber Eno dan ANDR bergantian.

Masalahnya adalah, bukan cuma trial by press saja yang saat ini disinyalir sedang dipraktekan dalam skema pemberitaan tendensius beberapa oknum media. Terlebih lagi, jika diperhatikan tidak ada satu pun dalam rentetan artikel berita tersebut, pihak Akbar sebagai sosok -yang ditengarai alami framing massal- diberi kesempatan untuk sekedar menangkis berupa argumen demi menyeimbangkan pemberitaan.

“Pembaca jadi bosan ketika sequel berita bertajuk hal yang serupa, dan ketika menyentuh tokoh utama beberapa oknum media selalu berlindung dibalik frasa kalimat : sampai berita ini tayang media masih belum terhubung pihak ybs dan akan terus diupayakan agar berita bisa berimbang. Sering kan ditemui hal seperti itu? Artinya apa? Artinya mereka tidak cukup serius dalam mengungkap sebuah persoalan.

Mencari aman dibalik frasa kalimat tadi, padahal pembaca sedang menunggu munculnya sanggahan dari pihak Akbar misalnya, apa benar demikian seperti yang diframing mereka. Atau ada pengakuan atau adanya jaringan lain justru disitulah media bisa dilihat, punya karakter atau sekedar oknum bayaran,” tukas Teguh Aprianto mahasiswa pasca sarjana Universitas Sebelas Maret ketika dimintai komentarnya oleh media ini.

Selain itu, Eno dan ANDR juga sekaligus menitipkan pesan pada oknum media yang selalu memosting berita negatif terkait bisnis bos Akbar. Sebab menurut Eno dan ANDR lagi, keduanya sudah banyak makan budi dengan diberi pekerjaan di Gudang Kuday.

“Asal tau aja bang, kami ini berdua bukan orang baik-baik awalnya, tapi kami berusaha jadi baik dengan bekerja pada Bos Akbar, saya minta tolong sampaikan pada teman-teman abang itu agar berhentilah mosting berita gak karuan seperti itu, selain ganggu kencéng nasi kami berdua, kami juga jadi tulang punggung keluarga kami di rumah (emak dan adik kami yang sedang jalani masa hukuman), jadi sekali lagi saya minta berhentilah beritakan soal bos, carilah kolektor lain yang belum bantu kalian sama sekali,” tutup Eno dan ANDR.(Tim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *