<
Example floating
BeritaInternasionalPangkalpinang

Hingga Kini Hen Masih Bebas Mengerit 100 Hari Kinerja  Kapolda Babel di Pertanyakan

3
×

Hingga Kini Hen Masih Bebas Mengerit 100 Hari Kinerja  Kapolda Babel di Pertanyakan

Sebarkan artikel ini

BABEL,PANGKALPINANG,SKT.CO.ID -Susahnya mendapatkan BBM jenis Petralite di sejumlah SPBU di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung kembali menjadi perbincangan di semua kalangan penikmat Kopi dimana lagi? kalau bukan di Warkop di Pangkalpinang.

Antrean panjang kendaraan menjadi kesempatan pengerit untuk manipulatif keadaan,sebagian Warga harus menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk mendapatkan BBM bersubsidi yang menjadi kebutuhan sehari-hari.

100 Hari kinerja Kapolda Babel Patut di pertanykan

Berbeda dengan pengerit yang satu ini sebut saja Sam dan temanya yang membawa mobil Picup untuk mengerit dan hasilnya setiap hari di Tiga SPBU Kp. Keramat dan SPBU Aspol dan SPBU Kace berulang-ulang berkisar kurang lebih 30 drigen untuk 2 mobil Picup perhari.

Lalu kemudian hasil perdrigen disetor ke Bos Hen di tampung disuatu tempat kemudian dijual ke Kampung yang sudah memesan BBM Petralite atau lebih tren langganan diduga menggunakan Drum.

Diketahui bos Hen seorang warga sipil mempunyai banyak mobil dan personil untuk memperkerjakan warga kampung itu sendiri dan Ia bersembunyi di belakang layar tidak tersentuh hukum untuk mengerit di wilayah Kabupaten maupun di Kota Pangkalpinang seakan kegiatan sudah terorganisir.

“Ku hanye nyopir pak, kelak ku telpon Hen yang punya,kami begawe ke nya la”. kata Sam saat kepergok awak media sedang memindahkan BBM Petralite ke bak mobil sedangkan saat itu BBM jenis Petralite di tangki mobil sudah Banjir. Rabu (16/9/26)

Kesempatan Pengerit dikala SPBU lagi kacau,antrian panjang maupun tidak mereka selalu aktif. Notabane nya menambah antrian panjang hingga keluar setiap pagar SPBU sehingga masyarakat mempertanyakan 100 hari kinerja Kapolda Babel sampai di mana?

Hal serupa di temukan tim jurnalis dengan modus yang sama hanya modal nyopir yang dikordinir oleh Hen membawa 15 drigen kosong dari rumah 6 drigen berisi Petralite 20 liter.

“Aduh,baru ne la pak, kita damai bai pak, ne la pak cuman a mana nukok, dek pacak ngulah agik la”. ucap Mang sani (bukan nama sebenarnya) kepada wartawan. (17/9)

Kondisi ini membuat tim Jurnalis Independen mempertanyakan apakah semua warga Kota Pangkalpinang ridho jika disetiap SPBU dipenuhi pengerit dengan berbagai modus untuk memperkaya diri sendiri sementara masyarakat yang membutuhkan sulit untuk dapatkan BBM.

Diduga Aph tak ada nyali menangkap Hen

Sorotan tersebut semakin menguat karena persoalan yang dirasakan masyarakat bukan hanya soal panjangnya antrean. Ketika Pertalite sulit diperoleh di SPBU, sebagian warga disebut memilih membeli BBM dari pengecer di pinggir jalan dengan harga yang jauh lebih tinggi.

“Evaluasi di Pertamina harus dilakukan terhadap persoalan distribusi di seluruh SPBU. ditambah lagi pengeritpun merajalela berbagai modus di gunakan untuk dapatkan Petralite lalu dijual ke pelosok Kampung sehingga situasi ini membuat masyarakat yang benar membutuhkan selalu jadi korban dan menanggung akibatnya tidak dapat BBM”. tegas warga masyarakat saat di mintai keterangan.(21/9)

Tim media ini berusaha konfirmasi ulang kepada Hen atau Jerawan namun belum mendapat jawaban terkait pengakuan anak buah di lapangan bahwa kami mempunyai bos yaitu Hen. (28/10) 

Masyarakat meminta Aparat Penegak Hukum (APH) agar bergerak cepat untuk menangkap mereka yang memiliki Bisnis pengerit hingga penimbunan serta impor BBM jenis Petralite ke perkampungan/Pedesaan  

Hingga kini diduga Hen masih beraktivitas gunakan jasa warga kampung dan tim Jurnalis Independen membuka ruang mediasi dan klarifikasi bagi Hen atau oknum maupun instansi terkait untuk memberikan penjelasan resmi.(Tim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *